Kamis, 10 Maret 2011

CERPEN FIKSI


Cinta Bertirai Cinta
( C B C )
Oleh: Alief_alkendariy[1]

Aku sedang beradu pada Bulan September yang hampir berakhir, bulan manis yang bergulir cepat menjemput, bahkan ingin bersalaman dengan sang Oktober. Rasanya ingin kuhentikan dengan segala kekuatan yang aku miliki, saraf-sarafku sedikit membengkak di keningku. Matahari kota kendari sangat menyengat melelehkan ubun-ubunku dan mengatapi perjalananku di siang bolong, hanya rambut ikal di kepalaku yang menjadi topi. Hari ini telah membuatku merasakan betapa beratnya beban yang merekati otakku di ujung September, lebih berat dari bobot badanku yang hanya kurang dari 45 Kg.

“Kenapa dia tidak berhenti juga ya…?” lamunan bodohku coba beradu pada kuasaNya.

“Aku harus bertemu dengannya hari ini, semua harus dipertimbangkan bersama-sama sebelum waktunya tiba”.

Sebuah ide yang mengguncang nadiku. Nafasku berubah cepat, bahkan ototku ikut merespon. Bergerak.
Langkahku pun berubah semakin cepat, mengejar panjangnya bayanganku tepat di hadapnku, makin cepat seperti putaran jarum jam tanganku yang memborgol, makin cepat, makin cepat dan cepat hingga aku berlari sekencang-kencangnya menuju sebuah lorong sempit di antara ruko-ruko orang Cina yang rapi berjejer megah di sepanjang jalan By Pass Kendari Barat, ingin rasanya kusembunyikan resahku di sini. Di ruang sempit ini.  

Adakah tempat untuk resahku saat ini…? Getir hati temani lariku di sepanjang sempitnya lorong.

Dan…! tak kutemukan lagi bayanganku di lorong sempit ini, gelap dan kotor. Ada sedikit ceceran berantakan oli bekas mobil di sepanjang lorong. Sambil menghela nafas keluar masuk rongga hidungku, langkahku perlahan makin lambat, makin lambat, dan melambat, lambat hingga aku berhenti lemah di ujung lorong, aku diam dan mengatur nafasku sendiri, tangan kananku menyangkut di ujung tulang pinggangku yang kurus, sesekali kuraih bagian bawah tulang rusukku. Ada rasa sakit menggigit di sana.

Huff…, lelahku mengaduh, dahiku mengrenyit lembut. Dengan mata yang tajam kutemukan pandanganku di hamparan luas, dan lagi, panas terik matahari muncul di ujung lorong sempit itu. Di hadapanku terpampang kotoran kayu  dan tembok yang tampak kropos hitam seperti hangus, atap seng yang rata dengan tanah bagaikan panggangan daging legam kropos dan berkarat yang berjatuhan. Tulisan samar dan kotor “PASAR BARUGA KENDARI” masih dapat terbaca di sebagian sisa-sisa kayu dan lempeng besi papan nama beberapa toko. Semua porak-poranda, berantakan tak tentu arah dan bentuknya.

Suasana lautan puing kotor itu sekonyong-konyong berubah sepi-ramai, sesekali ada beberapa pemulung yang menuntut rejekinya di sekitar puing-puing bangunan, sampah dan lalat-lalat liarnya. Mereka  hilang dan muncul di balik timbunan reruntuhan sisa santapan api membara itu.

Sembari mencari-cari tempat untuk bersandar, aku tak sadar, air mataku meleleh cair di pipi, bagai es beku yang dijemur di bawah terik matahari. Bibirku mengatup kuat hingga terpaksa kutelan air ludahku. Begitu terpaksanya aku, hingga harus melihat sisa kenyataan yang berat di depan mataku sendiri, hingga kenyataan yang harus kuterima dengan ketegaran yang membara, semembara api ganas musuh manusia. Atau lebih ganas dari itu.

Hampir sebulan yang lalu, aku hanya dapat kabarnya dari pesan singkat kakak saja. Terukir kabar kata, kalau pasar tempat mama berdagang telah dilahap amukan jago merah saat semua ribuan pasang mata di seluruh Kendari sedang terlelap. Si merah panas melahap dan menjilati semua yang disukainya, tentu toko warga sekitar daerah Baruga.

Dan aku harus akui semuanya lenyap. Semuanya nampak di retinaku yang berkaca-kaca. Semuanya musnah tanpa sisa. Semuanya hilang di ujung lidah api besar. Mungkin…? abunya juga telah ditiup bersama hembusan angin tepi sungai Kaliwanggu.

Tragedi membara itu telah memaksa keluargaku untuk harus mengukir catatan baru untuk siap merajut rezeki baru dari Sang Pemilik Rezeki.

Huufff…, sedihku melega, sambil menggelengkan kepala. Pelan.

Adzan Ashar terus mendekat, Kemejaku makin lembab, tembus cairan keringat dari punggungku, sambil bersandar di tembok belakang ruko yang cukup tinggi, aku hanya menatapi dan memutar pikiranku sampai aku menemukan lokasi toko mamaku dulu. Hanya dalam ilusiku, aku masih ingat benar nama toko yang pernah terukir di atas pintu toko mama; “TOKO LATHIFAH”, nama indah itu diambil dari nama kakakku, Latifah Maulidah, satu-satunya anak putri dari orang tuaku. Dan satu-satunya kakak perempuanku. Kami tentu sangat mencintainya. Dia adalah mahligai intan permata keluargaku. Tak heran jika mama memilih nama itu sebagai nama tokonya. Aku bangga…! aku sempat membantu bapak untuk mengecet tulisan nama toko mama di sebuah papan berwarna putih berukuran 60 x 80 cm. toko yang menjual sepatu dan sandal.

Aku masih berdiri-bersandar sambil menyembunyikan jariku dalam saku celana kainku. Ada sebuah HP milikku dan beberapa receh koin. Sesekali aku menunduk dan melihat sandal jepitku yang hampir pudar warna coklatnya. Ya… ini adalah sandal hadiah lebaran tahun lalu dari mamaku, diambil dari toko yang kini telah rata dengan tanah itu.

Mhhhh…mmmhhh…!!!, aku tak kuat…, mulutku merapat kencang, rapat sekali, tenggorokan makin tarik menarik, menahan gejolak perasaanku sendiri yang tak terjamahkan oleh udara panas dan teriknya matahari. Dan…., matakupun melelehkan airnya tepat di atas sandal kusamku yang kanan.

Ya Allah…, Allah…, Allah…, Ya… Razzaq… Ya Razzaq…, bibirku bergetar tak sadar.
Tak lama aku diam, isi sakuku bergetar kuat di pahaku…,
Ku raih HPku, dan terbaca di layar HPku …
“mama calling”.
Dengan cepatnya, kuhapus air matakku dengan kain lengan bajuku, berusaha menyembunyikan perasanku. dan Kering.
3 getar berlalu…, ku tempelkan HP-ku di telingaku, dan…

A a a..a…assalamau’alaikum ma…, salamku kaku patah. Menahan lagi. Walau air mataku agak kering, kata-kataku belum utuh, kayaknya menangis juga.
Wa’alaikum salaam wa rahmah…
Lagi di manakah kau ini nak…?
Saya ada di pasar Baruga ma…
Cepat kau pulang, kakakmu Lathifah baru nyampe dari Pulau Wakatobi, kita mau makan sama-sama, langsung pulang ya….!,
Ceria…, nada cepat mama menyihir hilang resahku.
Iyo ma, saya sudah mau pulang…, sebentar lagi sampe di rumah…, jawabku dengan senyum melebar.
Hati-hati ya nak…!!!, Assalamu’alaikum…
Wa’alaikum salaam….

Belum sempat kumasukkan HP-ku di saku celana, sekonyong-konyong HP bergetar pendek satu kali. Menari di genggamanku.
Ada pesan masuk.
“Message from Habibaty”
Ternyata pesan dari Safira, kekasihku. Pesannya singkat,

“bang Ardi tercnta jngn lpa dtng d wsdah safira tgl 2 oktbr y…! o ya… fira tunggu jg stlh wisudanya, jgn trlmbat y syang…, uhibbuka ya habiby

Aku tersentak membaca kata-kata itu. Dia kembali mengingatkanku. Keringatku kembali mengalir, rasanya kepalaku sedang bertarung seru dengan hatiku sendiri. Harapan yang pernah menjadi ancaman sebelum Fira mengenalku, kini menggelantung di kelopak mataku. Dekat dan mendekat.

Walau tanpa membalas pesan Fira, aku tetap diam seribu bahasa, sambil berjalan cepat menuju rumah…. Aku memaksa isi kepalaku menyulam kata-kata, terus dan terus kucoba…, dan… tak ada kata yang tertata.

Aku terus berjalan cepat menuju rumah, sekitar 300 meter dari pasar. 10 menit lagi aku sampai.

Harus sekarang…!
Sudah saatnya…!
Jangan ditunda lagi…!
Bathinku memberontak dalam-dalam, berbisik dan berbisik terus.

Tepat didepan teras rumahku yang berlantai ubin warna merah hati, ku lepaskan sandalku,
Assalamu’alaikum. Suaraku pelan. Aku masuk tanpa perlu mengetuk pintu.
 Sepi… tak ada yang menyahut salamku…, mungkin semua sudah berkumpul di ruang makan.
Ku tengok ruangannya,
Lho Ardi…kok baru nyampe…?, saut mama dari arah dapur belakang, mama sedang cuci piring. Semua sudah rapi.
Mana kak Ifah sekarang ma…? Katanya dia datang, katanya mau makan bersama ma? tanyaku membungkus rindu.
Oalaaahh… nak, kamu terlalu lama sampenya…, tadi itu ifah terburu-buru, takut terlambat ikut pertemuan di Gedung Sapta Pesona, ada rapat penting dengan atasannya dari Departemen Kesehatan Provinsi. Terang mama dengan santai, sambil membilas piring-piring kaca berwarna cokelat susu.
Terus dia mau ke sini lagi kan ma…?
Ya…smoga aja nak…, setiap ke sini, kakakmu itu yang diurus kerjanya terus, yah… maklumlah orang sibuk, padahal mama masih kangen nak. Kata-kata mama berharap penuh.
kamu nak…, harus banyak-banyak doa buat kakakmu itu, biar dia sehat, bisa biayai kuliyahmu sampe selesai nanti…, mama dan bapakmu ini sudah tidak punya apa-apa lagi nak. O iya… doakan juga biar Ifah cepat ketemu jodohnya…, sudah waktunya. Pintah mama. lembut, tapi mengerutkan dahiku, ada yang bergeser dalam hatiku.
Sekarang kamu si bungsuuu…, harus rajin belajar juga, biar bisa seperti kakakmu,  Ifah… Tegas mama sambil mengelap tangannya yang basah dengan kain serbet yang mengelantung di tepi jendela dapur. Tatapan teduhnya jatuh ke mataku.
Iya ma..., jawabku singkat. Hanya itu yang bisa keluar.
Ayo nak, sekarang kamu makan dulu…, nasi bambu oleh-oleh dari kak Ifah sudah mama potong-potong, ada di dalam lemari. Kau ambil saja … ikan ma sayurnya di atas meja,
Iya ma…! Kalimat itu lagi.

Kini aku makan, nafsuku agak menurun, cukup tiga potong kecil nasi bambu yang tampak terbakar. Ikan gurami dan sayur  daun ubi. Sedikit kuah ikan. Lauk pauk kesukaan bapakku.
Hanya beberapa suapan nasi bambu, dan cubitan gurami yang masuk ke mulutku, aku  berhenti. Tidak habis.

ma…, saya sudah selesai makan…, saya mau pergi ke masjid dulu ma, hari ini saya  yang adzan di masjid.  
Pamitku, usai menekuk secangkir air putih.
cepat sekali kau makan, makan apa kah kau itu…? tidak dihabiskan lagi toh….?
Teriak mamaku dari balik dapur tungku tua.
Iyo ma…nanti saya lanjutkan lagi makanku setelah sholat…disimpan saja dulu, Assalamu’alaikum…

***

Di serambi masjid. masjid Al-Hikmah masih sepi, 2 menit lagi ashar masuk. Aku menyiapkan semuanya.  

Allahu akbar… Allaahu Akbaar…
Allahu akbar… Allaahu Akbaar…

Lantang…, kulantunkan kalimat tahuid. Menyebar pecah di langit pemukiman kampung Wanianse.

Hayya ‘Alal Falaaah…. 2x
Hayya ‘Alas Sholaaah….2x

Mengajak pada semua muslim, mengokohkan tiang agama, meraih sukses….dan  Berdesir sesuatu di hatiku.

Laa.. Ilaha Illallaah…

Pelan nadaku sedikit memecah di akhir kalimat ini.
Ku angkat kedua tanganku ke lagit. Kubaca doa setelah adzan. Dan hatiku bergetar doa pada-Nya…

“Ya Allahu Ya Rabbi… berikan kemudahan dalam semua urusan hamba, berikan pintu hidayah dan hikmah-Mu, Ya Lathiif.., Yaa ‘Aliim..., jika benar dia (hatiku terbayang Safira) adalah jodoh hamba yang selama menjadi rahasia-Mu, segera ikatlah kami dalam satu keridhoa’an yang halal… dan tanpa tirai cinta untuk cintaku…”

Aku harap sayap-sayap doaku diterimanya.
Setelah 2 Raka’at ba’diyah, iqomah menyusul. Bapakku adalah imam tetap masjid ini. beliau biasanya sholat ba’diyah dan qobliyah di rumah.
Sholat Ashar pun berlangsung hingga salam

Diakhir sholat, aku pemperpanjang doaku yang tadi. Lebih khusuk. Lebih khudu’. Telapak tanganku makin merapat di wajahku. Mataku terpejam gelap, terlihat. seutas kilau menyambarkan berkas-berkas cahaya, berubah warna menjadi putih, cahaya  dan putih. Desir-desir syahdu lafadz ilahi terus bergetar dibibirku. Dan … Al-faatihah menyapu wajahku lembut berlembab…

Bapak telah merampungkan wirid dan doanya.
Ardi mau bicara pak…!

Seketika bapak langsung menggambil posisi bersila di depanku. Rapat.

ada apa Ardi…?

Dengan tegas dan gamblang, tanpa basa-basi, aku menjelaskan semuanya ke bapak.
Aku ingin segera meminang putri sulung H. Ahmad Fadhil.

Luar biasa terkejutnya bapak dengan permintaanku yang blak-blakan penuh yakin itu.
Kenapa terburu-buru nak? Tanya bapak dengan melototiku.

Dengan jujur dan polos kukatakan. kalau Selepas Wisudanya, Safira sudah waktunya menikah, itu sudah menjadi janjinya dengan abah dan umi tercintanya. Safira tidak siap lagi menghadapi kembali orang-orang yang dulu ingin meminangnya, namun ditolaknya dengan alasan masih kuliyah. Entah nanti setelah wisudanya…?
Dia hanya ingin Ardi yang datang melamarnya setelah wisuda pak. Bukan orang lain.
Aku tak bisa bayangkan, jika Saya terlambat pak. Cintaku dan cintanya sudah menyatu dalam cairan hati yang tulus. Yang ikhlas pak. Kami tak mau ada yang tersayat cinta hatinya hingga meronta dalam amukan asmara lalu berakhir dengan penyesalan yang sangat menyiksa batin kami.

Iya naaak… bapak paham. Tapi Kakakmu bagaimana nak…? Hingga detik ini Ifah belum pernah menceritakan pada mama dan bapak, tentang seseorang yang diharapkannya bisa menjadi pendamping hidupnya. Sampai sekarang juga. Padahal…, bapak dari dulu sudah khawatir dengan dirnya yang makin dewasa, makin memiliki karir dan job yang menjanjikan. Kakakmu juga makin cerdas. Penghasilannya makin meningkat. Bahkan kini kakakmu juga yang sanggupi biaya kuliahmu itu.
Bapak sangat hawatir nak… dengan saudaramu yang cantik itu. Tak heran jika beribu pertimbangan bisa tercangkok di benak pria yang ingin mencoba mendekati kakakmu. Batin mereka memilih mundur darinya. Tanggung jawab yang mana yang akan dipertaruhkan di sini?

Bapak malah menambah bebanku disini. Beban tirai-tirai cinta yang mengikat bongkahan cintaku sendiri.

Kenapa harus Cinta kekasih dan cinta saudara …?
Kenapaaaaa…? Hatiku teriak berontak…

***

Dua hari Oktober berlalu, hari ini aku harus melihatnya wisuda, sedikit menjadi pendamping wisudanya. Ribuan wisudawan wisudawati sedang berbagi senyum ceria. Berkeringat menunggu giliran tali topi toganya di pindahkan oleh sang guru besar. Sanggat ramai dan bertabur riang di wajah mereka, juga para keluarga mereka.

Namun tidak dengan diriku. Detakan jantungku makin cepat tak karuan. Isinya adalah sepi. Apa yang dirembugkan mama dan bapak dirumah adalah jawaban membuka ataukah menutup tabir cintaku. Aku hanya berdoa. Doa dan doa. Semua butuh ridha dari orang tua. Kak Ifah juga. Aku menyadari itu semua.
Di akhir acara wisudanya, usai foto bareng keluarganya, gadis berparas Jawa Arab yang tampak anggun dengan toga hitam indah yang membungkus kebayanya, menghampiriku di deretan kursi paling belakang. Bibirku tersenyum lebar menyambut senyum lebarnya yang super riang. Tapi… itu fatamorgana dariku, hanya tipuan dari suasana di hati dan isi kepalaku sekarang. Kupaksa dan terus kupaksakan.

Bang ayo kita foto bersama !

Kenapa dengan ragaku?
Bagaimana dengan cintaku yang sedang dipertaruhkan ini?

Dengan gaya yang kupaksa tegap.  Kucoba imbangi kebanggaan riangya di sampingku. Bangga, senang, riang, susah, resah, dan gelisah, mungkin tergambar di wajahku.
Ceklek…cekleek…cekleek…
Tiga cayaya blits camera digital miliknya menerpa kami berdua.
Ya Allah…, Fira harus ku lamar secepatnya…! Batinku memilih.

Pesona binar hati putri sulung pak Ahmad Fadhil terpancar tak kalah dengan nilai indah dengan camlaude-nya. Dengan riangnya dia meloncat kecil, tanda syukur, bangga dan bahagia yang tiada terkira. Entah…? betapa kecewanya dia saat diriku tidak hadir saat di acara wisudanya. Aku yakin…! abah dan uminya yang sejak tadi melihat kami berdua dari kejauhan, merasakan hal yang sama.

Diriku masih terdiam membisu dengan data kata yang beku. Tak tau alurnya lagi.
Bukan main terkejutnya lamunanku saat dia menjinjit sedikit dan berbisik padaku yang masih merenung seribu kata.
Fira tidak mau kehilangan abang...! Singkat, bisiknya halus.

Iya…! abang juga. Abang akan usahakan agar segera menjadi yang halal bagimu. Yang kau impikan selama ini.
He..emh…, sekali angukan dan senyum lebar dariku untuknya.

Responnya juga dengan mengangguk kecil. Senyumnya terukir lagi. Harapan yang dinantikannya sejak dua tahun yang silam, kini ada di depan matanya.

Tapi…otakku masih hadir di tengah-tengah rembugkan mama dan bapak.
Antara pertaruhan cinta dan ketegasan agama. Hadir mengapit budaya nikah keluargaku.

Tapi kenapa kak Ifah tidak memikirkan hal ini…?
Atau aku yang terlalu cepat memikirkan semua ini…?
Bantahan otakku meronta lagi.

Kenapa aku memaksakan kehendak pada kakak yang telah menyayangiku sejak bayi?
Pada kakak tercinta yang sekarang membiayai kuliyahku?
Aku kok sekejam itu ya…?
Hatiku ikut membantah pada diriku sendiri.

***

Sehari wisudanya berlalu. Suasana rumahku berbeda dari sebelumnya, pandangan mama dan bapak sedikit berbeda. Aku berharap ada kata yang aku muntahkan saat kami kumpul di satu kesempatan.  

Pagi yang sejuk. aku duduk sendiri menunggu di ruang tengah, di depan TV yang sengaja kumatikan. Dengan santai bapak datang dan duduk renggang di sebelahku, tangan bapak meraih remote TV dan menekan tombol merah. TV nyala. Bapak lihat berita.

Hari ini kau ada kuliyah di…? Bapak memulai perbincangan.
Emhhh… tidak ada pak. Dosennya masih di luar kota, jadi tim Asessor perguruan tinggi di Kolaka Utara.
Oooh…, kalau begitu kau jemput kakamu di Gedung Sapta Pesona, dekat Taman Ria Kendari. Mobil dinasnya lagi ada gangguan katanya. bapak masih ngurusin pembagian Raskin di kelurahan.
Iya pak…, Tapi bagaimana soal yang kemarin pak…?
Bapak sudah cerita sama mamamu.
Terus gimana pak? Desakku tak sabar.
Ya… apa kamu tak kasihan sama Ifah nak…? Suara mama muncul merubah suasana.  Dan ikut duduk di seblah bapak. Tatapan mama selalu teduh. Nampaknya mama mendengar perbincanganku dengan bapak.
Mama mengambil remote lalu mengurangi voleme TV. Baginya ini omongan serius yang butuh ketenangan sedikit. Tapi bagiku bukan sedikit lagi. Serius sehati sepikiran, seumur hidup. Dunia akhirat.

Pagi sejuk selepas hujan, kami membicarakan hal pertimbangan hati dan pikiran untukku.
Kasihan bagaimana ma…?
Kau melangkahinya untuk menikah. Apa kata keluarga nantinya nak?
Terus apa karena kakak belum menikah, aku harus menunggu kakak ma…?
Sebaiknya begitu…! Sahut bapak, berpihak pada mama.
Kau tidak mau kan melihat kakakmu yang seorang gadis mejadi pembicaraan orang-orang Karena kau melangkahinya? Mama menambahi.

Aku tambah resah dengan alur pembicaraan yang keluar dari harapanku ini. bingung menjelaskan inti dari bisikan hatiku yang menangis sejak akhir September.

Gerrrr…, tiba-tiba HP-ku yang sejak tadi di atas meja, bergetar satu kali. Ada pesan singkat.
Dari Fira…, kubaca dengan dada membara.
“yank… abang dmn…? Kta abah, Keluarga bapak KH. Mansur Idris bersama putra sulungnya sbntr lg mw dtang. Knp abang g’ dtg?”

Innalillah…, bisikku lirih
Amarahku bergema pada perasaanku sendiri.
Aku terlambat….
Aku terlambat….
Aku lambat….

Gerrrr…, lagi darinya.
Hanya 3 Pesan symbol emotion [LLL], maknanya tangisan sedih yang sangat darinya.
Mataku berkaca-kaca melihat SMSnya.  Hatiku panas berdebar. Dan mendorong aku mengatakan sesuatu pada mama dan bapak.

Ardi terlambat ma…, pak…?
Maksudnya…? Tanya bapak. Heran melihat air mataku menetes.
Hari ini Fira akan dilamar putra Kiyai Mansur.

Bapak dan mama diam tak berdaya melihat aku yang tersiksa dengan semua ini. mereka tak tahu lagi apa yang terbaik buat anak-anaknya. Terbaik buat cinta anak-anaknya. Kerutan di kening mereka tanda kalau mereka harus memutuskan apa yang harus dikorbankan antara cinta, agama, dan adat.

Kenapa tak ada yang mengerti dengan cinta ini…? kata-kataku ku atur.
Ardi tidak mau pacaran lama-lama ma. Ardi lulusan Fakultas Syari’ah yang mengerti hukum. Ardi dan Fira  tidak mau lama-lama larut dalam kekejaman fitnah, Ardi sudah siap lahir dan bathin untuk melakukan pernikahan ini. ingin mencintai dan dicintai atas dasar yang halal. Di atas syari’at  Islam. dalam Islam tidak ada yang melarang melangkahi kakak dalam hal menikah. Kalau mama dan bapak hanya takut dengan omongan-omongan dari orang, kenapa mama dan bapak tidak takut kalau saya nanti melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Aku sadar aku masih lemah dalam ujian ini.
Ardi tidak akan banyak menuntut, karena aku lebih siap menikah jika mama dan bapak meridhai saya. Aku hanya ingin tidak ada yang sakit antara hati dan hati.

Mama dan bapak sekonyong-konyong meneteskan air mata. Aku langsung mengatupkan bibir dengan rapat. Mengoreksi omonganku sendiri. salah atau tidak…?, yang penting aku hanya berusaha mengobati apa yang sakit selama ini.

Naaak…?! Mama memanggilku lirih.., ada ucapan yang ingin dimuntahkan.

Belum sempat mama bicara, tanpa ku duga…, kak Ifah berdiri di depan pintu bersama temannya. Aku sampai lupa menjemputnya, gara-gara omongan serius yang berlangsung haru biru tadi.

Aku terlambat dua kali hari ini…, terlambat buat Fira, kekasihku juga buat Ifah, kakakku sendiri. aku merasa menjadi laki-laki yang tidak tegas terhadap tanggung jawab dan amanah. Pria macam apa aku ini, rasanya tak pantas meminta cinta menuju pelaminan?, resahku menikam hatiku sendiri.

Assalamu’alaikum.
Wa’alaikum salam. Jawab kami bertiga dengan nada sedu bekas sedih. Mama, bapak mengusap air matanya. Tinggal aku. Tak bisa menahan semuanya. Ku sembunyikan wajahku dari kak Ifah. Untuk sementara. Tak kuat…,

Ma Ardi mau ke belakang…!?, aku lari ke kamar mandi untuk menikmati seduku, dan menormalkannya untuk kak Ifah. Aku hanya wudhu, lalu keluar bertemu kakak.

Gerrrrr….,
Satu pesan dari Fira lagi, aku tau dia juga merasakan kesedihan ini, hingga menyembunyikan tangisannya di balik bahasa SMS-nya. Sejak kemarin dia memang hanya SMS, tidak mau menelpon. Tak tau kenapa?
Aku buka pesannya.
“bang abah dan umi menunggu abang…[J]”

Subhanallah…, apa maksudnya ini?, aku kembali diambang kebingungan, tanpa ragu, aku langsung menelponnya.

Halo…, Assalamu’alaikum…
Wa’alaikum salam bang… suaranya merdu di ujung HP-ku, lama  aku tak mendenganya lagi. Ada intonasi cinta yang berbisik lebih jauh di ujung hati sana.
Dek Fira…, maksudnya abah dan umi menunggu abang, apa…? Tanyaku imbangi lembut salamnya. Aku merasa sudah tidak pantas lagi memanggil dengan kata sayang untuknya.
Abah tenyata sudah tahu, kalau pilihan Fira adalah yang terbaik bagi Fira, abah dan umi belum pernah melihat Fira seriang dan sebahagia waktu abang bersama Fira di acara wisuda Fira. Mereka menyaksikan kebahagian Fira yang jauh berbeda. Itu juga kan berkat kehadiran abang yang siap memenuhi janjinya, dengan mengorbankan jadwal mengisi seminar pendidikan nasional di UNSULTRA.
Lho… adek kok bisa tahu semua itu…? Tanyaku heran.
Iya bang…, putra KH. Mansur yang memberitahukan tadi. Dia adalah peserta seminar itu, dan kecewa dengan pembatalan kehadiran abang di sana, karena harus digantikan dengan nara sumber yang tidak begitu memuaskan peserta seminar. Gitu katanya bang…,

Diam-diam aku menyimpan pujian yang terbesit sedikit.
Ooo.. begitu toh.., ya itu abang lakukan karena abang sayang dan cinta ma dek Fira, maafkan abang ya…, abang kalah cepat dengan putra kiyai itu…!?
Kok panggil adek sih…?
Ya…Karena abang terlambat melamar dek Fira
Baaang… abang belum terlambat, bahkan tidak akan terlambat sampai kapan pun, kecuali Fira dipanggil Allah.
Maksudnya apa Fir?
Abah dan umi mengharapkan abang menjadi pendamping dunia akhirat yang kita cita-citakan sejak ketemuan dulu.
Kenapa abah dan umi berubah pikiran begitu, Terus bagaimana dengan keluarga Kiyai Mansur ?
Keluarga Fira dan keluarga Kiyai mansur adalah keluarga Islam Jawa. Walau begitu orang tua kami masih meyakini adat kami juga, bahwa pernikahan anak sulung dan sulung, menurut adat Jawa kurang cocok. Yah kalau Fira sih percayanya sedikit aja, jangan banyak-banyak.
Penjelasannya gamblang, lalu di susul tawa riangnya yang menawan.
Ooo kalau di sini, tidak ada yang begituan. Terus kalau kita, gimana dalam adat Jawanya. Adek Fira anak sulung, abang anak bungsu…?
Ya … itu dia yang bagus bang…., cepetan lamar Fira ya… Fira akan selalu menunggumu sayangku…! Bahasa cintanya mulai tenangkan resahku.

Aku ikut bahagia dengan kabar ini. ternyata Allah mendengar doaku… Allhamdulillah…
Iya sayangku…, cintaku…, doakan abangmu ini, biar bisa dan tawakkal…!
Iya bang.., doaku selalu untukmu…
Salam abang buat calon mertuaku…! Candaku menuai, perlahan kami tertawa kecil…
Amiiiin…, doa Ifah tetap walau aku bercanda.
Assalamu’’alaikum
Wa’alaikum Salam Wa rahmah…

***

Sementara di ruang tengah pembicaraan tampak serius, sepertinya berlangsung lama. Selama bincang-bincang cintaku tadi di HP. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ada seorang pria yang tadi mengantarkkan kakak duduk di sebelah bapak, mama dan kak Ifah di hadapan mereka.
Aku tak tahu, apa aku harus bergabung atau tidak. Sepertinya bapak dan mama mmembicarakan masalahku yang tadi secara langsung pada kakak. Aku jadi ragu dengan sikap dan tingkahku di balik tirai pintu antara ruang makan dan ruang tengah. Aku hanya mengintip sedikit.    

Di… Ardiii…! Mama memanggilku. Lantang.
Ia ma…?
Ke sini sebentar…!
Aku langsung keluar dari balik tirai berwarna hijau tua.
Aku duduk di antara mama dan bapak.
Kenapa ma…? Tanyaku gugup.
Ini kau kenalkan dulu. Calon suaminya kakakmu.

Subhanallah…Alhamdulillah…. Getir di hati memuji-muji keagungan Sang pemilik cinta.
Sang pembolak-balik hati. Rasanya kepalaku kosong dan hampa dari resah dan susah.

Kamipun bersalaman.
Ardi…
Anshori…

Aku melirik ke kakak…, senyumnya lebar…, matanya tenang menatapku. Ada yang tersembunyi disana. Itukah tabir cinta kakak.
Selamat ya kak…!
Iya.., selamat juga ya dek…!
Hmmm…, selamat untuk apa…?
Selamat untuk hal yang sama seperti yang dirasakan kakak sekarang.
Maksudnya…?
Besok kak Anshori bersama dengan orang tuanya akan melamar kak Ifah, dan besoknya lagi kita akan pergi ke rumah H. Ahmad Fadhil. Jawab mama dengan wajah bercahayanya.
Ngantar undangan ya ma…?
Bukan nak…,
Terus mau apa ma?
Mau melamar putrinya untuk kamu nak.
Yang benar ma…,? Paak…? Kaak..?
Semuanya mengangguk manis dan tersenyum lebar.
Kucium tangan mama, bapak dan kakakku tercinta dengan perasaan yang melangit ringan terterpa hembusan nikmat Ilahhi

Ternyata pembicaraan mereka tadi singkat tapi padat isi dan makna dalam sejarah kehidiupanku. Aku tidak menyangka juga kalau bapak menelpon H. Ahmad fahil, dan menanyakan peristiwa yang terjadi di rumahnya. Peristiwa cinta adat, cinta agama dan cinta keluarga yang luar biasa.

***

Sebulan setelah pertunangan kami, kaluargaku, keluarga kak Anshori, dan keluarga H. Ahmad Fadhil sudah sepakat bersama. Untuk melaksanakan pernikahan secara bersama-sama. Dua pasangan pengantin yang diberkahi cinta Ilahi di Gedung serbaguna Sapta Pesona Kendari.
Perjalanan memperjuangkan cinta di atas agama, adat dan kekeluargaan mengalir indah dalam lantunan musik lokal klasik ala kepulauan Wakatobi. Romantis dengan bahasa-bahasa cinta yang terukir di wajah 2 pasang pengantin. Pelaminan bertabur cinta yang besar menambah keagungan pernikahan lillahi ta’ala kami.
Disini aku mengerti bahwa tirai yang selama ini menggenggam hati dan pikiranku adalah luas rasa cintaku sendiri pada Dia, dia, dan diriku. Inilah Cinta yang bertirai cinta.


Sekian

***
   
  


[1] Nama Pena dari M. Alfithrah Arufa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar